image of computer & technology 3

Pemanfaatan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan semakin signifikan pemanfaatannya pada sektor logistik. Selain efisiensi, teknologi juga menjanjikan keandalan yang lebih baik.

Pakar Kemaritiman Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Raja Oloan Saut Gurning menerangkan proses digitalisasi memberikan level efisiensi yang faktual walau tidak hanya faktor digitalisasi semata. Pertama, digitalisasi mendorong perubahan cara atau proses bisnis logistik.

Pola pergerakan komoditas atau fisik, termasuk barang, proses pemesanan dan keuangan yang sebelumnya dilakukan dengan manual, saat ini karena kemampuan digital berubah.

Pergerakan logistik fisik (angkutan, simpan dan penanganan) barang tetap. Namun, aliran pembayaran, pemesanan, evaluasi, perencanaan, termasuk visibilitas (tracking/tracing) sudah dilakukan lewat virtual. Kedua, koneksi usaha semakin terbuka. Peluang ekspansi pasar, jumlah dan variasi pengguna jasa serta tipe jasanya dapat lebih aksesibel.

“Termasuk mendorong semakin banyaknya pelaku atau penyedia jasa sebanding yang skalanya bisa lokal, regional dan internasional. Jadi ada plus-minusnya,” terangnya, Rabu (13/12/2023).

Ketiga, menurutnya, proses administrasi terkait pemerintahan, yang selama ini cukup birokratif saat ini menjadi lebih mudah. Tidak perlu berulang dan dapat disimpan untuk berbagai kegiatan yang berbeda.

Keempat dalam mengelola potensi resiko. Selama ini dilakukan individual, saat ini bisa dilakukan secara kolektif lewat skala entitas dan komunitas setara (horisontal) hingga skala ekosistem (vertikal).

Lebih jauh, dia menilai besaran angka efisiensi dari pemanfaatan digital ini sangat beragam bergantung banyak faktor, utamanya proses bisnis yang berubah, tingkat kolaborasi serta skala atau cakupan penerapan digitalisasinya.

“Kalau di maritim, dalam beberapa kasus yang saya amati bisa hingga 20 persen, khususnya di terminal, pelayaran, operasi pandu-tunda, dan jasa ekspedisi muatan laut [forwarding]. Khususnya aktivitas administrasi, perencanaan, koordinasi, pembayaran yang bersifat fisik menjadi touch processes atau digitalisasi,” jelasnya.

Tantangan

Menurut Saut, sejumlah tantangan masih mengadang pemanfaatan digital di sektor logistik, mulai dari tingkat kebutuhan atau maturitas dari kebutuhan pengguna jasa logistik, lalu konsekuensi faktor ini sangat mempengaruhi pemilihan teknologi (enablers) atau varian sistem informasi atau ICT yang dipilih.

Selanjutnya, karena sifatnya internal dan eksternal, pilihan proses yang semakin digital dan teknologi yang dipilih sangat bergantung atas dukungan atau respon pihak ekstenal, termasuk partner. Ini pentingnya kolaborasi digital.

“Ini juga relatif butuh proses. Kita liat saja, seperti inaportnet, port community system dengan berbagai variansinya: TOS, P-TOS, STID dan lainnya hingga level ekosistem seperti NLE, tidaklah mudah menerapkannya secara penuh,” katanya.

Kolaborasi digital perlu dibarengi kemampuan transformasi untuk berubah. Baik internal maupun ekstenal, dalam skala unit horisontal-vertikal, publik-swasta, intra komunitas, hingga ekosistem baik domestik, regional dan global.

Untuk masuk dalam transformasi ini, butuh manajemen perubahan pola bisnis; dari manual, mekanikal hingga digital. Termasuk kultur digital hingga ke penanganan risiko digitalisasinya hingga bisa relatif lentur atau resilient dalam menghadapi berbagai faktor perubahan (disrupsi) yang mungkin terjadi.

Potensi Lintas Batas

Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi global e-commerce telah menjadi kekuatan pendorong di balik evolusi lanskap pengiriman barang digital. Forbes memperkirakan pasar e-commerce global akan mencapai total US$6,3 triliun pada akhir 2023, dan memperkirakan pasar akan tumbuh hingga total lebih dari US$8,1 triliun pada 2026.

Dengan perluasan pasar ini, terdapat kebutuhan solusi terukur dan efisien guna menangani lonjakan pengiriman lintas batas. Dunia usaha didesak untuk berinvestasi pada platform pengiriman barang digital yang dapat mengelola kompleksitas logistik e-commerce domestik dan internasional dengan lancar, memastikan pengiriman tepat waktu dan kepuasan pelanggan.

forwarder.co menjadi salah satu pemanfaat teknologi digital yang dapat menjadi contoh meraih efisiensi terutama pengiriman lintas batas. Bisnis rintisan ini memberikan beberapa layanan pengiriman barang digital berupa solusi pengiriman yang disesuaikan, penawaran instan, dasbor pribadi, dan wawasan operasi logistik.

Dengan memanfaatkan teknologi mutakhir, perusahaan ekspedisi ini dapat menghasilkan rencana pengiriman optimal yang secara khusus memenuhi kebutuhan UKM. Dari memilih moda transportasi yang paling hemat biaya hingga merancang rute pengiriman yang efisien, perusahaan ekspedisi digital memastikan bahwa UKM dapat mengirimkan barang mereka dengan sangat presisi dan dengan biaya minimal.

Terlebih lagi, dengan produk Less Than Container Load (LCL), UKM dapat melakukan pengiriman jalur laut dengan satuan kubik dibandingkan memesan dengan satuan per kontainer yang mengharuskan UKM untuk memiliki volume pengiriman yang sangat tinggi agar dapat memanfaatkan logistik laut.

Teknologi lain yang diusung oleh forwarder.co pada platform digitalnya adalah fitur instant quotation atau penawaran instan. Melalui fitur ini, UKM dapat memperkirakan biaya yang perlu disiapkan untuk kargo yang akan dikirimkan. Kepraktisan ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan Perusahaan ekspedisi tradisional yang memperlukan proses yang lama dalam pembuatan penawaran harga, Dimana kurang praktis bagi pelaku usaha UKM yang membutuhkan kecepatan dan kepraktisan dalam proses operasionalnya.

Kemudian, salah satu keuntungan paling berharga dari layanan pengiriman barang digital untuk UKM adalah penyediaan dashboard pribadi. Perusahaan ekspedisi digital memprioritaskan kepuasan pelanggan dengan menawarkan dukungan khusus selama proses pengiriman.
Selain itu, memanfaatkan analisis data tingkat lanjut, forwarder.co membantu menganalisis tren pengiriman, mengidentifikasi hambatan, dan mengantisipasi potensi tantangan, perusahaan ekspedisi membantu UKM membuat keputusan yang tepat untuk mengoptimalkan manajemen rantai pasokan.

Co Founder forwarder.co Stephanus Sugiharto menilai geografi kepulauan Indonesia memberikan tantangan unik logistik. Platform pengiriman barang digital menawarkan optimalisasi rute dan kemampuan koordinasi yang canggih, membantu menavigasi kerumitan pengangkutan barang di berbagai pulau secara efisien.

“Beragam industri di Indonesia, mulai dari perdagangan hingga manufaktur, membutuhkan jaringan logistik yang fleksibel dan adaptif. Platform digital memberikan fleksibiliras yang diperlukan mengakomodasi beragam kebutuhan dari berbagai segmen rantai pasokan yang berbeda, memfasilitasi pergerakan barang yang mulus,” jelasnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki ekosistem UKM yang berkembang pesat. Pengiriman barang via digital freight forwarder memberi usaha kecil akses ke jaringan logistik global, memberdayakan UKM terlibat dalam perdagangan domestik dan internasional dengan menyederhanakan prosespengiriman.

Sumber: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7088244/ai-bisa-bikin-industri-logistik-lebih-hemat-20-begini-caranya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *